Karya sastra : Lentera Malam

Oleh Ni Putu Wijani, S.Pd.

Malam semakin lalrut seiring bertaburan bintang-bintang di langit. Bintang-bintang malam ibaratberkejar-kejaran ingin menunjukkan kecantikannya kepada mahluk di bumi.

“Sungguh indah pemandangan di jagat raya ini!” gumam seseorang yang tengah melamun seorang diri. “Andai aku ada di tengah-tengah bintang itu, alangkah nyaman hatiku,” gumamnya kembali.

Terlintas perasannya

menembus indahnya hamparan bintang-bintang yang jauh di sana. Menari-nari, bernyanyi, meliuk-liuk di antara bintang dan bulan di langit. Tiba-tiba datanglah seseorang membuyarkan lamunannya.

“Eh, kok Kakak melamun?” tanya Made membuyarkan lamunan saudaranya.

“Aku tidak melamun. Coba kau lihat di sana!” ujar Putu sambil menunjuk ke batas cakrawala. Mereka bersama menikmati kelap-kelip benda langit itu. Sesekali mereka berdecak kagum menyaksikan kelakukan bintang-bintang yang amat mempesona itu.

Teras rumah yang penuh dengan tanaman hias, membuat dua insane itu asyik dengan obrolannya. Made dan Putu adalah dua saudara yang sangat akur dalam kehidupannya. Sebab sejak lama kedua orang tua mereka tiada. Keduanya telah menghadap kepadaNya. Kembali kealam sang gaib.

b. Mereka sesungguhnya belum siap ditinggalkan orang-orang yang mereka cintai. Itu menyebabkan mereka sering bersedih. Apa lagi saat-saat malam ini, di tengah hamburan bintang yang gemilang.

Suasana malam yang penuh bintang itu selalu mengingatkan mereka pada masa-masa yang indah. Tapi kini semua itu hanyalah membuat mereka terasa suntuh melamun. “Kak, ayo tidur. Sudah ngantuk, nih!” ajak Made membujuk kakaknya.

“Sebentar Dik! Lihatlah bintang-bintang itu! Kedua orang tua kita pasti ada di sana!” sahut Putu halus menunda ajakan Made untuk tidur. Mendengar kata-kata Putu, Made,adiknya, tiba-tiba berusaha menyelami perasan kakaknya. Namun, Made tak mengerti perasaan kakaknya. Rasa kantuk itu sudah begitu berat bergelayut di pupil matanya. Ia pun merajuk, mengajak Putu berangkat tidur. Putu sedikit kesal melihat ulah adiknya yang tidak memahami perasaannya.

“Kak, jangan banyak menghayal! Biarkah orang tua kita tenang di surga!” desak Made. Sebenarnya

Made ingin menemani kakaknya. Tapi karena kuatnya sergapan kantuk itu, ia tak kuasa menahannya.

Sementara Putu tak bergeming dari ajakan Made, akhirnya Made memutuskan untuk berangkat tidur sendiri dengan perasaan sedikit kesal.

Made beranjak dari duduknya, sementara Putu tak bergeming dalam duduknya. Putu masih juga bengong dan tetap pada suasana hati dan dunia yang dimasukinya. Made bertambah kesal melihat kakaknya. Ia mengambil vas bunga yang ada di teras meja. Vas bunga yang penuh dengan bunga mawar ia banting tepat di depan kakaknya.

“Apa maksudmu, Dik?” kata Putu membentak adiknya. “Sana pergi tidur sendiri!” lanjut Putu. Made meninggalkan Putu yang tetap sendiri di taman. Taman yang penuh dengan bunga aneka warna membuat taman itu semakin asri. Mawar, melati, anggrek, dan berbagai tanaman hias lainnya yang tertata apik. Apa lagi di tengah taman terdapat kolam kecil dengan air mancur yang menari-nari dan dengan air yang selalu mengalir. Di situlah biasa mereka berdua melewati malam-malam saat hati mereka mulai rindu pada orang tua mereka. Putu semakin kusuk pada lamunannya.

Sampai di kamar, rasa kantuk Made gaib entah ke mana. Ia suntuk memikirkan perkataan kakaknya. Tidak disadarinya, air matanya perlahan-lahan menitik, lalu menetes setelah sempat membasahi pipinya yang licin, putih, bersih.Namun tangisnya tak terdengar. Ia menyesal telah mengganggu kesuntukan kakaknya satu-satunya.

Terlintas pikirannya bahwa ia seharusnya dapat menghibur hati kakaknya karena kedua orang tuanya telah lama pergi. Akhirnya Made kembali duduk di dekat kolam kecil itu sambil mempermainkan air yang mengalir itu. Kakinya diayun-ayukan ke air kolam. Tanpa di sadari lentera malam semakin nyalang bersinar.

Keasyikannya menikmati langit malam itu, sedikit mengusir kesedihannya. Untuk semakin jauh mengusir kekusutan hatinya, made berusaha menghibur diri dengan menghitung bintang-bintang itu satu per satu. Ia mulai menghitung bintang-bintang, “Satu, dua, tiga, empat ……. .” Tiba-tiba Made kaget. Ada sinar yang berbeda di kejauhan. Kalau dikatakan bintang, sinar itu tidak bertengger pada langit atau cakrawala, melainkan pada sebuah pohon yang tinggi dan besar.

Rumah mereka memang berada di pinggang bukit sehingga mereka leluasa memandang sejauh mata dilepaskan. Sinar yang dilihat Made tidak berwarna keperakan, melainkan merah, berkedip perlahan seperti tanpa gairah, agak remang. Ia mengusap-usap matanya, agar terlihat sedikit terang. Namun sinar itu tetap saja seperti itu. Sinar itu mulai bergerak perlahan. Gerak sinar itu membuat Made sedikit heran dan semakin kaget.

“Kak, Kak Putu… cepat ke sini!” Putu yang sedari tadi hanyut dalam lamunan, kaget dan segera mendekati Made. “Ada apa?’

“Itu……..itu……, “ Made terbata-bata.

“Tak ada apa-apa!” tukas Putu.

“Itu di sela-sela pohon, yang bergerak-gerak itu. Sinar itu!”

“Mana, mana. Tak ada apa-apa!”

“Aneh,” bisiknya. “Kok, Kak Putu, tidak melihatnya.” Karena penasaran, Made setengah berlali mendekat ke arah sinar itu. Namun sinar itu sudah jauh sekali dan mulai menyelinap ke kegelapan. Menghilang. Semenjak sinar itu lenyap, Made merasakan bulu kuduknya mulai merinding. Seluruh tubuhnya mulai dirayapi perasaan takut. Ia mengusap-usap pangkal leher belakangnya. Ia tambah kaget lagi, ketika dilihat sinar buram itu sudah berada di dekat pos kamling di ujung jalan menuruni bukit itu. Perasaan takutnya semakin menyergap ketika suara angjing mulai melolong-lolong di kejauhan.

Putu yang sedari tadi agak bingung memperhatikan polah adiknya, mulai yakin adiknya melihat sesuatu. Karena Putu pun disergap perasaan yang sama ketika mendengar lolong anjing itu. “Apa yang kamu lihat, Dik?”

Made tak berkata sepatah pun. Ia semakin gemetar. Karena sinar itu semakin jelas menghampiri gerbang rumahnya. Gerakan sinar itu pelan tapi pasti. Namun entah mengapa, tiba-tiba sinar itu berhenti, lalu perlahan menjauh ke arah datangnya tadi. Kedua bersaudara itu diam seribu bahasa, tak mampu berkata apa selama beberapa saat. Malam itu vakum sejenak.

“Pukul berapa sekarang Dik?” tanya Putu menyentakkan suasana. Made sedikit gugup sambil perlahan melihat arloji di tangan kirinya. “Pukul 23.00!”

“Berarti sudah mendekati tengah malam! Ayo, cepat kita ke dalam,” ujar Putu.

Made mengikuti ajakan kakaknya sambil sesekali menoleh ke belakang. Mereka menuju ke kamar tidur dengan bisu, tak terdengar sepatah kata pun di antara mereka, kecuali desah napas mereka yang tidak beraturan.

Tulisan Lain: