Keteguhan Jiwa Penyajak

Oleh : I Made Sarjana

Karya sastra umumnya, puisi pada khususnya, merupakan gambaran jiwa penulisnya. Keadaan jiwa penyajak itu akan diungkapkan melalui kata-kata, yang dirangkaikan menjadi sebuah karya sastra yang berbentuk puisi. Tentunya tidak semua suasanya jiwanya dimasukkan ke dalam karya tersebut. Dalam proses penciptaan ia (penyair) akan menyeleksi inti sari-inti sari, yang mana harus diungkapkan melalui karya tersebut. (selengkapnya)

Oleh karenanya, jika kita membaca sebuah karya sastra, khususnya puisi, kita akan dapat menyimak dan mengetahui bagaimana sikap dan jiwa penyajak. Tentunya dalam hubungannya dengan kehidupannya. Kita akan tahu sikap penyajak terhadap kehidupan yang dialaminya. Apakah dalam kehidupannya, penyajak sebagai manusia yang mempertahankan hidupnya untuk mencapai hasrat dan cita-citanya, bersikap acuh saja? Seperti perahu kertas yang hanyut di sungai. Atau ia dalam mempertahankan hidupnya, mencapai cita-citanya dengan penuh perjuangan, melawan arus, meski harus mengalami kegagalan untuk kesekian kali. Atau untuk berkali-kali mungkin. Mampukah ia bertahan dalam bercanda dengan kegagalan perjuangan itu?

Untuk melihat sikap seorang manusia menghadapi kehidupan, marilah kita simak sebuah puisi karya K. Landras yang berjudul “Nyanyian Hidup II” lewat BPM, 28 Oktober 1984. Inilah larik-larik puisinya.

Nyanyian Hidup II

Karena hidup bukan penyerahan

Maka tanggalkan luka kemarin

Karena kemarin hanya mimpi

Memang kita telah kalah

sejak tangis jatuh pertama

tapi bukan lalu menyerah

jangan biarkan semut-semut

menertawai kita

Mari kasih

tinggalkan mimpi nakal ini

ikat rambutmu erat erat

kita bakar matahari

Melalui puisinya yang terdiri atas tiga bait itu, K. Landras bertekad untuk mencapai hasratnya (cita-cita) yang memerlukan suatu perjuangan yang tidak kecil yaitu « membakar matahari”. Untuk mencapai inilah ia harus kuat menanggung kegagalan-kegagalan. Namun suatu sikap yang patut kita puji telah melapisi jiwanya, tak mengenal lelah, penuh keyakinan, dan keteguhan hati, yang penuh kesadaran.

Pada bait pertama dapat kita lihat sikap penyajak yang begitu tegas, untuk meninggalkan luka, luka akibat perjuangan hidup. Meninggalkan kegagalan-kegagalan yang pernah dialami dalam pencapaian suatu cita-cita, bahwa hidup bukanlah suatu penyerahan. Berarti hidup harus diperjuangkan, tidak menyerah begitu saja.

Kemudian kalau kaita lihat bait berikutnya, akan kita lihat sikap ang penuh kesadaran. Ia mengatakan bahwa memang sejak awal kelahirannya, seaj kemunculannya ke dunia sudah merupakan kekalahan. “Memang kita telah kalah/sejak tangis jatuh pertama/”.

Saya jadi teringat perkataan seorang teman bahwa dalam kelahiran kita ke dunia ini, kita tak sempat mengadakan perlawanan untuk memilih, dan memilih tempat lahir. Ini berarti kita telah kalah tanpa syarat, kita kalah dengan sikap konyol. Namun penyajak, oleh kesadaran itu, tak mau menyerah karena kekalahan-kekalahan itu. Dan jika menyerah berarti akan mendapat tertawaan semut-semut, seekor mahluk yang begitu kecilnya akan menertawakan.

Selanjutnya ajakan penyajak kepada kekasihnya, meninggalkan mimpi yang sering mengganggu, mimpi-mimpi yang nakal, lalu mengikat rambut erat-erat agar tak terganggu dalam perjuangan itu. Dan akan sampailah pada cita-cita untuk membakar matahari.

Dari puisi tersebut, betapa teguh sikap penyajak dalam menghadapi hidup dan cita-cita.

KITA eharusnya dapat memiliki sikap seperti Landras, dalam mencapai cita-cita. Suatu sikap yang patut kita beri acungan jempol , dan perlu kita pupuk untuk mencapai kehidupan yang berarti. Marilah kita laksanakan ajakan-ajakan Landras melalui puisi karyanya. Dan yang terakhir, buat Landras, selamat menuju cita-cita, selamat melangkah untuk membakar matahari. Okey, semoga berhasil (sudah pernah dimuat pada koran Bali Post Minggu, 18 November 1984).