Oleh :Made Mardika, S.Ag.

Ananyaú cintayanto màm ye janàá pary upàsate,/teûaý nityàbhiyuktànàm yogakûemaý vahamy aham./Bhagavadgita IX.22.

(Mereka yang memuja Aku sendiri, mengingat Aku selalu,/kepada mereka Aku bawakan apa yang mereka perlukan/dan akan Aku lindungi apa yang mereka miliki)

Hidup manusia tidak selamanya manis, enak dan menyenangkan, tetapi terkadang mengalami pasang surut laksana gelombang di tepi laut. Jika dalam kehidupan itu, kita tak punya pegangan, kita akan terhempas. Dan mungkin terjerembab ke dasar laut kehidupan. Hidup dan kehidupan mestinya dinikmati bagai sang peselancar ulung, selalu tersenyum riang meniti gelombang, walau sekali waktu tergulung gelombang yang tertiup angin kencang.

Ajaran suci diturunkan Hyang Widhi, lalu disusun kembali menjadi agama, merupakan pegangan hidup umat manusia. Seseorang yang punya pegangan yang jelas tak kan khawatir dalam meniti kehidupan. Ajaran agama membimbingnya bagaimana meniti kehidupan, memberi bayangan tentang apa tujuan hidup kita, bagaimana merealisasikannya, dan meangarahkan manusia menuju kesempurnaan hidup.

Banyak hal dapat menjerumuskan manusia dalah kehidupan ini. Namun, Bhagavadgita mengelompokkannya menjadi 3 sifat atau dorongan, yaitu nafsu (Kàma), emosi (Krodha) dan ambisi (Lobha) yang kemudian digambarkan sebagai tiga pintu gerbang menuju neraka.

Trividham narakasyedam, dvàram naúanam àtmanaá, (Bhagavadgita XVI.21.

(Inilah tiga pintu gerbang menuju neraka, jalan menuju jurang kehancuran diri, yaitu: nafsu (Kàma), amarah (Krodha) dan ambisi/serakah (Lobha), setiap orang harus meninggalkan sifat ini).

Ketiga hal itulah yang menjadi penyebab kehancuran manusia dan lingkungannya. Untuk mengatasinya, seseorang harus kembali kepada ajaran agama sebagaimana tercantum dalam Veda dan susastra Hindu lainnya. Sebagaimana diamanatkan dalam GBHN, maka pendidikan spiritual, moral, dan etika hendaknya semakin ditingkatkan dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun anggota masyarakat, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan sosial maupun dalam hubungannya dengan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.Pendidikan spiritual, moral dan etika merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Adapun yang menjadi sumber pendidikan ini tidak lain adalah ajaran agama. Pengamalan ajaran agama tercermin lewat perilaku dalam keluarga dan masyarakat. Jika seseorang berperilaku arif dan bijaksana, maka orang itu dikatakan telah mengamalkan ajaran agama dengan baik, sebab tidak ada artinya mengerti atau memahami ajaran agama bila dalam kehidupan sehari-hari pemahaman tersebut tidak mawujud.. Untuk dapat mengamalkan ajaran agama dengan baik, pegangannya adalah ajaran agama.

Ajaran agama Hindu bersumber pada Veda. Veda merupakan wahyu Tuhan. Kemantapan orang melaksanakan ajaran agama akan memberikan ketentraman dan kebahagiaan hidup yang sejati. Ajaran agama merupakan pembimbing kehidupan spiritual, moral dan etika. Kehidupan di dunia ini tidak selamanya stabil, tenang, tentram dan bahagia. Banyak duri dan rintangan yang mesti dihadapi, ada pasang surutnya dan tak jarang penuh gelombang. Bagaimana seseorang menyelamatkan diri dari gelombang kehidupan ini? Jawabnya, mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dalam ajaran agama Hindu ada 4 jalan mendekatkan diri kepada Tuhan, yakni melalui Bhakti Màrga (jalan kebhaktian), Karma Màrga (jalan perbuatan), Jñàna Màrga (jalan pengetahuan kerohanian) dan Yoga Màrga (jalan Yoga/menghubungkan diri kepada-Nya). Dari berbagai jalan itu, nampaknya Bhakti Màrga merupakan jalan yang paling mudah dilaksanakan.Dari sekian banyak pilihan melaksanakan Bhakti Màrga, melaksanakan Tri Sandhyà, sembahyang, dan berdoa sesungguhnya merupakan jalan yang paling sederhana dan paling mudah dilaksanakan oleh setiap orang. (bersambung)