Prosa

leh : I Gede Andika Satria Wibawa (Kelas VIA)

Di Indonesia telah tersebar luas anak yatim piatu. Jarang ada orang yang memperhatikan anak-anak yatim piatu. Anak yatim piatu biasanya dirawat dip anti asuhan. Meski begitu, mereka tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Begitu juga dengan Agus. Dia anak asuhan di sebuah panti asuhan. Di situ Agus disukai teman-temannya sehingga Agus mempunyai banyak teman. Bukan hanya lantaran Agus sudah sejak lama tinggal di situ. Tapi semua itu karena Agus memang anak yang baik. Di samping itu, ia tergolong anak yang pintar di antara teman-teman seusianya.

Agus menjadi anak asuh di panti asuhan tersebut sejak ia berumur lima tahun. Sejak umur lima tahun Agus sudah ditinggal orang tuanya. Sejak itu, ia harus belajar hidup mandiri. Karena sejak kecil ia biasa hidup tanpa tergantung pada orang lain. Untuk menghidupi diri ia dengan rela menjadi pengamen jalanan sepanjang pagi hingga sore. Tetapi, semua itu tidak mengganggu dan menyurutkan gairah belajarnya. Tak heran bila pada umur dua belas tahun Agus memperoleh beasiswa untuk bersekolah di sebuah sekolah yang maju dan berkualitas bagus sekaligus sebagai sekolah elit di kota ia tinggal. Hal itu membuat semua warga panti asuhan senang termasuk ibu pimpinan panti asuhan tempatnya tinggal.

Awal-awal Agus bersekolah di sekolah tersebut, ia selalu diejek oleh siswa-siswa di situ. Hampir semua siswa di situ sudah mengenal Agus sebagai anak panti asuhan. Karena sebelumnya, ketika ia menerima penghargaan beasiswa, hamper semua media menayangkan wajahnya sebagai contoh siswa yang harus diteladani dalam hal kemandirian dan keuletan belajar. Meski selalu diejak teman-temannya, Agus bukanlah anak yang berkarakter lembek. Ia tidak bergeming sedikit pun terhadap ejekan teman itu. Semua itu menambah tekadnya untuk lebih tekun lagi belajar. Dan usahanya itu, tidak sia-sia.

Karena mendapat pendidikan yang berkualitas maka kemampuan dan kecerdasannya semakin meningkat. Hingga akhirnya, Agus menduduki ranking 3 besar di sekolah itu. Tak heran juga, bila Agus sering ditunjuk mewakili sekolah dalam lomba-lomba tertentu, dan ia selalu memperoleh juara.

Animo belajar Agus memang sudah mendarah daging pada dirinya meskipun ia tak lagi duduk di bangku sekolah. Ia kini sudah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta. Meskipun gajinya masih kecil, tidak menyurutkan kecintaannya pada pekerjaan itu. Agus terus-menerus belajar dari pengalaman-pengalamannya di samping terus membaca untuk menambah wawasan dan pengetahuannya, di samping tetap disiplin dengan sikapnya yang baik.

Lama-kelamaan, kemampuan Agus terus meningkat. Setiap tugas yang dibebankan kepadanya ia laksanakan dengan baik dan mampu mendongkrak imej perusahaan tempat ia bekerja. Itu sebabnya, Agus disukai dan dicintai oleh teman sekerjanya, pimpinannya, termasuk kolega-kolega perusahaan tempatnya bekerja. Tak lama kemudian ia diangkat menjadi manajer di perusahaan itu. Kemiskinan dan kegembelan tak lagi melekat pada dirinya, karena ia tidak lagi menjadi penghuni panti asuhan. Itulah rentetan kesuksesan yang dialami Agus yang semula hanyalah anak panti asuhan, kini sudah menjadi orang kaya raya.

Entah dari mana datanya perubahan pada diri Agus, semenjak ia meninggalkan hunian panti asuhan, sikap Agus sangat berubah. Di kantornya, ia mulai arogan, dan tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Ketika ada bawahannya yang mengusulkan sesuatu, ia marah-marah. Maka sikap marah-marah itu telah menjadi kebiasaan dirinya. Ia tidak lagi mau belajar dan membelajarkan dirinya. Sementara itu, perkembangan dunia sudah semakin pesat dan kemampuan yang dimilikinya tidak lagi sesuai dengan zaman. Ia pun tidak mampu mengikuti perkembangan pengetahuan, malah ia mulai ketinggalan jauh dari bawahannya yang meneladani sikap-sikap baiknya dan kesukaannya belajar.

Kini Agus mempunyai kebiasaan baru, yaitu ke sana kemari hanya mengagung-agungkan dirinya, menyombongkan diri. Kalau ada yang menyinggung tentang asalnya dulu dari panti asuhan ia akan seger marah-marah. Semenjak ia meninggalkan panti asuhan, ia tidak ingat lagi bahwa ia pernah lama tinggal di situ.

Suatu hari ia tiba-tiba ingin datang ke panti asuhan tempatnya dulu. Bukan untuk membantu atau menyumbang ke panti asuhan itu ia mau datang. Kedatangannya ke sana hanya karena dorongan untuk membanggakan dirinya, menyombongkan kekayaannya, menggembar-gemborkan kesuksesannya. Ketika ada anak yang menilai sikapnya ia tiba-tiba marah-marah dan membentak-bentak anak itu.

Melihat sikap Agus seperti itu, pimpinan panti asuhan menasehati Agus agar Agus ingat dengan asal-usulnya dulu dari panti asuhan itu. Agus tidak lagi mau dinasihati orang yang pernah mengasuhnya sejak kecil. Agus marah-marah, lalu bergegas pergi. Dengan marah ia menstater mobilnya, dengan amarah ia kemudikan mobilnya. Ketika hendak keluar dari pintu gerbang panti asuhan , mobil Agus menabang gapura panti asuhan tersebut sampai gapura itu roboh. Mobilnya hancur lebur, ringsek. Agus terjepit di dalam mobil, dan meninggal di tempat.

Saat itulah, ibu panti asuhan menasehati anak-anak asuhnya. “Anak-anakku, belajarlah dari pengalaman ini. Kalian memang harus menggantungkan cita-cita setinggi langit. Kalian harus merebut kesuksesan. Tapi jangan sampai kesuksesan itu memperbodoh diri kalian. Inilah yang dialami oleh Bapak Agus, yang dulu juga menjadi salah seorang keluarga kita. Kita harus tetap menjaga diri kita tetap sadar. Meskipun kita pintar dan sukses hendaknya kita selalu ingat pada pepatah orang tua kita dulu, bagaikan ilmu padi semakin berisi semakin merunduk.”