Karya sastra : Lentera Malam
Malam semakin lalrut seiring bertaburan bintang-bintang di langit. Bintang-bintang malam ibaratberkejar-kejaran ingin menunjukkan kecantikannya kepada mahluk di bumi.
“Sungguh indah pemandangan di jagat raya ini!” gumam seseorang yang tengah melamun seorang diri. “Andai aku ada di tengah-tengah bintang itu, alangkah nyaman hatiku,” gumamnya kembali.
Terlintas perasannya
menembus indahnya hamparan bintang-bintang yang jauh di sana. Menari-nari, bernyanyi, meliuk-liuk di antara bintang dan bulan di langit. Tiba-tiba datanglah seseorang membuyarkan lamunannya.
“Eh, kok Kakak melamun?” tanya Made membuyarkan lamunan saudaranya.
“Aku tidak melamun. Coba kau lihat di sana!” ujar Putu sambil menunjuk ke batas cakrawala. Mereka bersama menikmati kelap-kelip benda langit itu. Sesekali mereka berdecak kagum menyaksikan kelakukan bintang-bintang yang amat mempesona itu.
Teras rumah yang penuh dengan tanaman hias, membuat dua insane itu asyik dengan obrolannya. Made dan Putu adalah dua saudara yang sangat akur dalam kehidupannya. Sebab sejak lama kedua orang tua mereka tiada. Keduanya telah menghadap kepadaNya. Kembali kealam sang gaib.

