Oleh Made Sarjana

Selalulah berpikir positif! “Positive thinking!” kata orang Eropa alias bule. Itulah petuah yang selalu diucapkan seorang tokoh bijaksana kepada orang yang meminta advis kepadanya.

Pikiran positif akan membawa kita pada sikap yang tidak penuh curiga, atau mengurangi kebiasaan memvonis seseorang berniat kurang baik di baik sikap baiknya, tanpa menghilangkan sikap tetap waspada (Baca selanjutnya)

Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Karya Purnami Eka Yanti (Kelas VIA)

Guru adalah abdi negara yang sangat besar jasanya dalam mendidik manusia untuk membentuk mental menjadi manusia yang berguna di masa depan untuk mengisi kemerdekaan ini. Guru ibaratnya seorang pahlawan tanpa menggunakan senjata baik pistol maupun tombak, namun ia mengabdikan diri dengan penuh semangat perjuangan. Berkoar-koar di depan kelas untuk mentranfer ilmu yang dimilikinya.

Guru adalah yang digugu dan ditiru. Maka seorang guru harus menjadi suri teladan di masyarakat menjadi contoh anak-anaknya dan murid-muridnya. Seorang guru harus bisa meningkatkan diri serta disiplin ilmunya sesuai dengan perkembangan zaman guru..Zaman dulu dengan zaman sekarang sangat berbeda, dalam artian guru tidak boleh berpangku tangan saja. Tuntutlah ilmu setinggi mungkin. Belajar seumur hidup. (lanjut………………………..)

(lagi…)

Siswa Bicara Pengendalian Diri

Pendidikan Budi Pekerti

Oleh Vedanta Maha Karuna (Kelas VIA)

Pengendalian diri dianggap sumber mulia budi pekerti karena bisa membuat diri tenang, tidak terbutu-buru, tidak tergesa-gesa, dan tidak ceroboh dalam melakukan segala sesuatu.

Yang dimaksud pengenalian diri adalah menahan dan mengarahkan segala keinginan dan perasaan kita agar sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Kita harus mampu melakukan pengenalian diri dengan baik karena bisa membuat diri kita tenang dalam menghadapi setiap persoalan hidup.

Hal-hal yang harus didasari oleh pengendalian diri dengan baik misalnya dalam hal bertutur kata, melaksanakan pekerjaan, dan bertingkah laku.

(lagi…)

Oleh I Made Mardika, S.Ag.

Guru Merupakan Perwujudan Kasih

Memang sangatlah sulit menjadi guru yang ideal hingga mampu bersikap dan berperilaku bijaksana, sebagaimana tuntutan filosofi dan teologi Hindu. Terlalu banyak tugas, kewajiban, tanggung jawab , tuntutan fisik, mental, spiritual dipersyaratkan kepada para “guru”, karena itu pulalah maka “guru” merupakan predikat khusus diantara para manusia. Satya Narayana menyatakan bahwa secara spiritual “guru” dituntut harus menjadi perwujudan kasih dan kesabaran. “Guru” sebagai perwujudan kasih tidak lain adalah Tuhan yang bermanifestasi atau Tuhan yang berwujud. Pengaruh guru sangat kuat dan berfungsi sebagai katalisator dalam proses perubahan pola perilaku para murid. Oleh karena itu hal yang terpenting dari sekian banyak hal yang penting bahwa para guru itu harus mengembangkan sifat-sifat kasih. Sebelum mampu menjadi perwujudan kasih, maka paling tidak seorang “guru” harus berupaya secara bertahap untuk melangkah pada sifat-sifat kasih. Membiasakan diri mengakui kesalahan, memperbaiki kesalahan, tidak mengulangi kesalahan, mencintai yang benar dan kebenaran, apalagi jika bisaberbuat hanya yang benar, merupakan suatu tahapan-tahapan dalam upaya merealisasikan perwujudan kasih.

(lagi…)

Keteguhan Jiwa Penyajak

Oleh : I Made Sarjana

Karya sastra umumnya, puisi pada khususnya, merupakan gambaran jiwa penulisnya. Keadaan jiwa penyajak itu akan diungkapkan melalui kata-kata, yang dirangkaikan menjadi sebuah karya sastra yang berbentuk puisi. Tentunya tidak semua suasanya jiwanya dimasukkan ke dalam karya tersebut. Dalam proses penciptaan ia (penyair) akan menyeleksi inti sari-inti sari, yang mana harus diungkapkan melalui karya tersebut.

(lagi…)

Oleh :Made Mardika, S.Ag.

Ananyaú cintayanto màm ye janàá pary upàsate,/teûaý nityàbhiyuktànàm yogakûemaý vahamy aham./Bhagavadgita IX.22.

(Mereka yang memuja Aku sendiri, mengingat Aku selalu,/kepada mereka Aku bawakan apa yang mereka perlukan/dan akan Aku lindungi apa yang mereka miliki)

Hidup manusia tidak selamanya manis, enak dan menyenangkan, tetapi terkadang mengalami pasang surut laksana gelombang di tepi laut. Jika dalam kehidupan itu, kita tak punya pegangan, kita akan terhempas. Dan mungkin terjerembab ke dasar laut kehidupan. Hidup dan kehidupan mestinya dinikmati bagai sang peselancar ulung, selalu tersenyum riang meniti gelombang, walau sekali waktu tergulung gelombang yang tertiup angin kencang.

(lagi…)