Puisi


Akhir Hidupku

Karya : Pricilla Mourine Ham (Kelas VIA)

Tak bisa bejalan

Hanya bisa duduk

Tak bisa berucap

Hanya bisa mendengar

Tinggal menghitung hari

Hidupku pun berakhir

Tak bisa ditunda

Itu kehendak tuhan

Hidupku tak berguna

Hanya bisa merepotkan

Biarlah aku mengakhiri hidupku

Pergi ke alam atas

Tulisan Lain:

ALAM DI DESAKU

Oh alamku . . . .

Alamku terbentang luas

Gunung, danau, laut, sungai

Adalah ciptaan tuhan

Banyak penduduk tinggal

Di desa maupun di kota

Kesana kemari

Jerih payah itu ia tidak hiraukan

Desa yang indah, desa yang asri

Itu kebanggaan penduduk di sana

Mereka bekerja keras untuk

Mencari nafkah dan juga kebutuhan hidup

Di sana

Tulisan Lain:

Waktu Kehidupan

Oleh : A.A. Sagung Ratu Putri Saraswati

Detik-detik jam terus bergulir

Tak ada saat untuk terpaku

Selalu berputar

Mewakili sang waktu

Tak ada waktu untuk

Menepisnya . . . .

Selalu . . . . dan

Selalu . . . . berjalan

Tak ada waktu untuk mengulang

Jalanilah selalu

Baik suka maupun duka

Tetap jalan kebenaran di hati

Tetap satu tujuan

Yaitu . . . .

Surga . . . . .

Tulisan Lain:

Letihku Malam Ini

Oleh : A.A. Sagung Ratu Putri Saraswati (Kelas VIA)

Kawanku langit sunyi

Daun-daun berbicara tentang kita malam ini

Tentang sajak senja hari ang kubuat terlalu larut

Aku hanyut tersandung waktu sia-sia

Jari-jariku, bersandar di kursi rapuh pojok kamar

Tampak hampa dan larut di kegelapan

Selarut kopi pahit ibuku

Ah, malam ini aku letih

Walau anginnya tak henti bergurau,

Aku masih rindu akan selimut merah muda itu

Tulisan Lain:

Made Sarjana

Solilokui

di mana bulan bernyanyi

kita hanya berdiri lalu menyisir butir demi butir

pasir pantai ini menggurat bayang laut di pulau

dan bila sajak hanya lamunan

akulah sajak itu dan engkaulah lamunanku

gelombang lewati gelombang

menghabiskan putaran-putaran jarum jam

kita masih tetap menatap setitik bayang perahu

karena gelombang laut tak pernah sepi

biarlah angin menghempas-hempas ruang hati

biarkan aku jadi jarum jam kerinduan

meniti detik detik waktu

hingga maut menghentikan langkah

dan bila puisi hanya kerinduan

akulah puisi itu dan engkaulah rinduku

1999

Puisi ini dimuat dalam buku kumpulan puii Hijau Kelon & Puisi 2002

terbitan KOMPAS

Hidup I

Lelahku mencekik sukma

Tulang putih pendar sarat

mencari seribu mercu di

dalam pekatmu.

Kau lihatkah kakiku

bawa busur sesarkan padaMu

Kau saksikanlah senyumnya hampa

mencari terang dini.

Sisa peluh tubuhku

lekat dalam sukma

leleh cair kembang

kerna panah dia resah

September 1984

Puisi

Sejak hari itu . . . .

Pertama kali kita bertemu

Kau tanyakan namaku

Ku juga Tanya namamu

Berbagai suasana kita lewati bersama

Sedih, Senang, tawa dan canda

Tapi kini kau pergi

Kau t’lah punya sahabat baru

Yang lebih dariku

Mngapa kau tinggalkan aku

Kau acuhkan diriku menjauh dariku

Bahkan kau mengejek diriku

Betapa sedih diriku

Kau tinggalkan aku

Ku t’lah kehilangan sahabat

Biarpun begitu

Aku tetap menggapmu sebagai sahabat

Wahai sahabatku

(oleh : A.A. Istri Sarastriyani Dewi, Kelas VIA Tahun 2008/2009)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.