Prosa


Oleh : I Made Sarjana

Pertanyaan, bagaimana caranya agar kita selalu berusaha berpikir positi, mungkin dapat dijawab dengan resep dari seorang motivator kondang Mario Teguh. Mario Teguh menyarankan, setiap muncul keinginan untuk bertindak atau bersikap negatif segeralah ucapkan “that is not me!”, lalu segera lakukan hal-hal yang positif (Baca selengkapnya …….)

(lagi…)

Oleh Made Sarjana

Selalulah berpikir positif! “Positive thinking!” kata orang Eropa alias bule. Itulah petuah yang selalu diucapkan seorang tokoh bijaksana kepada orang yang meminta advis kepadanya.

Pikiran positif akan membawa kita pada sikap yang tidak penuh curiga, atau mengurangi kebiasaan memvonis seseorang berniat kurang baik di baik sikap baiknya, tanpa menghilangkan sikap tetap waspada (Baca selanjutnya)

Siswa Bicara Pengendalian Diri

Pendidikan Budi Pekerti

Oleh Vedanta Maha Karuna (Kelas VIA)

Pengendalian diri dianggap sumber mulia budi pekerti karena bisa membuat diri tenang, tidak terbutu-buru, tidak tergesa-gesa, dan tidak ceroboh dalam melakukan segala sesuatu.

Yang dimaksud pengenalian diri adalah menahan dan mengarahkan segala keinginan dan perasaan kita agar sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Kita harus mampu melakukan pengenalian diri dengan baik karena bisa membuat diri kita tenang dalam menghadapi setiap persoalan hidup.

Hal-hal yang harus didasari oleh pengendalian diri dengan baik misalnya dalam hal bertutur kata, melaksanakan pekerjaan, dan bertingkah laku.

(lagi…)

Oleh I Made Mardika, S.Ag.

Guru Merupakan Perwujudan Kasih

Memang sangatlah sulit menjadi guru yang ideal hingga mampu bersikap dan berperilaku bijaksana, sebagaimana tuntutan filosofi dan teologi Hindu. Terlalu banyak tugas, kewajiban, tanggung jawab , tuntutan fisik, mental, spiritual dipersyaratkan kepada para “guru”, karena itu pulalah maka “guru” merupakan predikat khusus diantara para manusia. Satya Narayana menyatakan bahwa secara spiritual “guru” dituntut harus menjadi perwujudan kasih dan kesabaran. “Guru” sebagai perwujudan kasih tidak lain adalah Tuhan yang bermanifestasi atau Tuhan yang berwujud. Pengaruh guru sangat kuat dan berfungsi sebagai katalisator dalam proses perubahan pola perilaku para murid. Oleh karena itu hal yang terpenting dari sekian banyak hal yang penting bahwa para guru itu harus mengembangkan sifat-sifat kasih. Sebelum mampu menjadi perwujudan kasih, maka paling tidak seorang “guru” harus berupaya secara bertahap untuk melangkah pada sifat-sifat kasih. Membiasakan diri mengakui kesalahan, memperbaiki kesalahan, tidak mengulangi kesalahan, mencintai yang benar dan kebenaran, apalagi jika bisaberbuat hanya yang benar, merupakan suatu tahapan-tahapan dalam upaya merealisasikan perwujudan kasih.

(lagi…)

Karya sastra : Lentera Malam

Oleh Ni Putu Wijani, S.Pd.

Malam semakin lalrut seiring bertaburan bintang-bintang di langit. Bintang-bintang malam ibaratberkejar-kejaran ingin menunjukkan kecantikannya kepada mahluk di bumi.

“Sungguh indah pemandangan di jagat raya ini!” gumam seseorang yang tengah melamun seorang diri. “Andai aku ada di tengah-tengah bintang itu, alangkah nyaman hatiku,” gumamnya kembali.

Terlintas perasannya

menembus indahnya hamparan bintang-bintang yang jauh di sana. Menari-nari, bernyanyi, meliuk-liuk di antara bintang dan bulan di langit. Tiba-tiba datanglah seseorang membuyarkan lamunannya.

“Eh, kok Kakak melamun?” tanya Made membuyarkan lamunan saudaranya.

“Aku tidak melamun. Coba kau lihat di sana!” ujar Putu sambil menunjuk ke batas cakrawala. Mereka bersama menikmati kelap-kelip benda langit itu. Sesekali mereka berdecak kagum menyaksikan kelakukan bintang-bintang yang amat mempesona itu.

Teras rumah yang penuh dengan tanaman hias, membuat dua insane itu asyik dengan obrolannya. Made dan Putu adalah dua saudara yang sangat akur dalam kehidupannya. Sebab sejak lama kedua orang tua mereka tiada. Keduanya telah menghadap kepadaNya. Kembali kealam sang gaib.

(lagi…)

Keteguhan Jiwa Penyajak

Oleh : I Made Sarjana

Karya sastra umumnya, puisi pada khususnya, merupakan gambaran jiwa penulisnya. Keadaan jiwa penyajak itu akan diungkapkan melalui kata-kata, yang dirangkaikan menjadi sebuah karya sastra yang berbentuk puisi. Tentunya tidak semua suasanya jiwanya dimasukkan ke dalam karya tersebut. Dalam proses penciptaan ia (penyair) akan menyeleksi inti sari-inti sari, yang mana harus diungkapkan melalui karya tersebut.

(lagi…)

Prosa

leh : I Gede Andika Satria Wibawa (Kelas VIA)

Di Indonesia telah tersebar luas anak yatim piatu. Jarang ada orang yang memperhatikan anak-anak yatim piatu. Anak yatim piatu biasanya dirawat dip anti asuhan. Meski begitu, mereka tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Begitu juga dengan Agus. Dia anak asuhan di sebuah panti asuhan. Di situ Agus disukai teman-temannya sehingga Agus mempunyai banyak teman. Bukan hanya lantaran Agus sudah sejak lama tinggal di situ. Tapi semua itu karena Agus memang anak yang baik. Di samping itu, ia tergolong anak yang pintar di antara teman-teman seusianya.

Agus menjadi anak asuh di panti asuhan tersebut sejak ia berumur lima tahun. Sejak umur lima tahun Agus sudah ditinggal orang tuanya. Sejak itu, ia harus belajar hidup mandiri. Karena sejak kecil ia biasa hidup tanpa tergantung pada orang lain. Untuk menghidupi diri ia dengan rela menjadi pengamen jalanan sepanjang pagi hingga sore. Tetapi, semua itu tidak mengganggu dan menyurutkan gairah belajarnya. Tak heran bila pada umur dua belas tahun Agus memperoleh beasiswa untuk bersekolah di sebuah sekolah yang maju dan berkualitas bagus sekaligus sebagai sekolah elit di kota ia tinggal. Hal itu membuat semua warga panti asuhan senang termasuk ibu pimpinan panti asuhan tempatnya tinggal.

Awal-awal Agus bersekolah di sekolah tersebut, ia selalu diejek oleh siswa-siswa di situ. Hampir semua siswa di situ sudah mengenal Agus sebagai anak panti asuhan. Karena sebelumnya, ketika ia menerima penghargaan beasiswa, hamper semua media menayangkan wajahnya sebagai contoh siswa yang harus diteladani dalam hal kemandirian dan keuletan belajar. Meski selalu diejak teman-temannya, Agus bukanlah anak yang berkarakter lembek. Ia tidak bergeming sedikit pun terhadap ejekan teman itu. Semua itu menambah tekadnya untuk lebih tekun lagi belajar. Dan usahanya itu, tidak sia-sia. (lagi…)